Oct 072013
 
Photovoltaic (PV) atau yang kita kenal sebagai solar panel memang sanggup menghasilkan listrik tanpa bahan bakar. Listrik dihasilkan melalui konversi photon matahari. Pada umumnya efifsiensi dari PV berkisar antara 12-13%, walaupun ada juga yang sanggup mencapai 20%. Dengan iklan yang cukup menarik ini, tidak heran PV menjadi idola dan booming.  Ada hal menarik yang harus dipertimbangkan oleh electrical engineer khususnya power system, bahwa PV dan juga wind turbine adalah non-dispatchable generation. Apa artinya ini? Suatu pembangkitan disebut dispatchable jika sanggup menyesuaikan detik per detik dengan beban untuk menjaga keseimbangan system dan keandalannya. Pada kenyataannya, kapasitas pembangkitan PV dan windturbine bisa turun dalam magnitude ratusan Megawatt dalam waktu 30 menit. Jadi, energi yang terbarukan ini tidak dapat mengimbangi kebutuhan beban. 
English: Solar panel installation at an inform...

English: Solar panel installation at an information center adjacent to Ögii Lake (Photo credit: Wikipedia)

Enhanced by Zemanta

Memahami hal tersebut, demi menjaga keseimbangan sistem,  maka diperlukan suatu dispatchable pembangkit untuk menjaga jika tiba-tiba PV array tidak menghasilkan apa-apa. Masalahnya, tidak ada pembangkit yang bisa mengejar load dalam orde ratusan watt dalam periode 30 menit.

Semakin tinggi penetrasi dispatchable generation pada sistem kelistrikan, maka semakin besar pula unit dispacthable pembangkitan yang harus dijalankan TANPA BEBAN. Contoh penetrasi PV yang tinggi pada sistem kelistrikan adalah California di Amerika serikat, yang mencanangkan 30% penetrasi hingga tahun 2020. Gambar 1 menunjukkan pertumbuhan PV di california. California berpotensi untuk mengalami ketidak stabilan dalam hal ini.

Blog_6_GTM_Shiao_1-600x0

Dari hal ini, kita tidak bisa terpaku pada bahwa PV bisa mengurangi biaya bahan bakar; tetapi juga tantangan operasional yang akan dihadapi ketika PV harus masuk ke dalam grid. Jangan terpaku pada slogan ” Siang hari dengan PV, malam hari dengan anging.” Di Jerman, dengan program Energiewende,  prakarsa untuk melakukan transisi kebergantungan pada energi nuklir dilakukan. Pemerintah mengkampanyekan energi solar dan angin. Akan tetapi dengan program ini jumlah interupsi meningkat 29% dan kegagalan pelayanan naik 31% (sumber). Untuk menutup lubang ini, pemerintah Jerman membangun Pembangkit listrik dengan batubara (yang lebih polusi daripada nuklir). Jerman saat ini tercatat sebagai negara dengan penetrasi renewable energi terbesar di dunia.
Source :

      http://www.dissentmagazine.org/article/green-energy-bust-in-germany
      http://www.spiegel.de/international/germany/instability-in-power-grid-comes-at-high-cost-for-german-industry-a-850419.html
      http://www.powermag.com/renewable-intermittency-is-real/?pagenum=1
%d bloggers like this: