Nov 012011
 

Seperti sudah kita ketahui dari posting terdahulu, bahwa pada gangguan karena kebocoran insulasi yang menyebabkan “first fault“, tidak perlu alat proteksi langsung bekerja untuk mengisolasi gangguan. Hal ini disebabkan tegangan sentuh (touch voltage) tidaklah membahayakan personil. Lihat posting ini. Jadi pilihan pada system IT ini akan meningkatkan kontinuitas pelayanan (service continuity). Beberapa peralatan yang harus terdapat pada operasi system IT adalah sebagai berikut:

  • Instalasi PIM (Permanent Insulation Monitor) untuk memberikan indikasi terjadinya first fault baik melalui lampu indikasi atau suara.
  • Fault finder untuk menemukan lokasi fault baik dengan handheld unit atau dengan unit yang otomatis.
  • Unit proteksi bisa trip saat second fault.
  • Pemeriksaan impedansi system untuk meyakinkan, bahwa pada gangguan fase-ke-fase, unit proteksi PASTI akan bekerja. Jika ternyata tidak bekerja, maka diperlukan proteksi tambahan.
  • Overvoltage limiting device harus dipasang di transformer secondary terminal. Device tersebut dipasang diantara titik netral dan ground ATAU antara fase dengan ground.

Apakah PIM (Permanent Insulation Monitor) itu?

PIM merupakan device yang dipakai untuk memonitor secara terus menerus kondisi level isolasi system dan memberi informasi jika terjadi first fault. Prinsip bekerja dari PIM ini adalah dengan mempergunakan tegangan AC frekuensi rendah atau dengan tegangan DC yang rendah yang dibangkitkan dari suatu unit signal generator elektronik. Jika terjadi kebocoran insulasi, maka akan timbul arus bocor. Arus bocor ini dipakai untuk mengindikasikan terjadinya fault dan membantu lokasi terjadinya fault. Akan tetapi tetap harus diperhatikan bahwa PIM hanya bisa dipakai untuk system yang mengijinkan untuk di-inject dengan frekuensi rendah atau DC tegangan rendah. Dengan memonitor isolasi system secara terus menerus, maka tindakan pencegahan sebelum terjadinya first fault dimungkinkan. Tindakan pencegahan ini dilakukan dengan cara memberikan setting alarm yang sesuai pada nilai level isolasi tertentu yang dianggap cukup rendah.

Gambar dibawah adalah ilustrasi instalasi PIM dari brand BENDER

Pada skematik brand BENDER ini, IRDH575 adalah signal generator untuk membangkitkan detected signal. EDS47xx merupakan unit untuk menemukan lokasi fault secara otomatis (automatic fault locator). Unit yang memakai alat serupa gelang (clamp) warna merah merupakan unit portable untuk menemukan lokasi fault. Selain BENDER, beberapa brand lain adalah SCHNEIDER dan ABB. Berikut ini merupakan skematik dari SCHNEIDER untuk automatic fault locator.

Untuk IT system, International standard seperti IEC 60364-4-471 memberi rekomendasi untuk memasang RCD (residual current device) yang memiliki sensitivitas tinggi (\leq 30 mA) untuk sirkuit \leq 32 A di situasi apapun. Untuk lokasi/area dimana resiko kebakaran bisa terjadi, IEC 60364-4-471 merekomendasikan untuk dipasang RCD dengan sensitivitas \leq 500 mA.

Pada kondisi feeder yang panjang, dimana fault loop resistance untuk gangguan fase ke fase menjadi tinggi, maka ada kemungkinan unti proteksi tidak bekerja. Alternative yang terjadi adalah :

  • Pasang unit proteksi dengan magnetic setting yang rendah untuk menjamin I_{SC Min} > I_{setting magnetic}
  • Atau pasang RCD
  • Atau pasang penghantar dengan diameter lebih besar ( fault loop impedance akan turun)
  • Atau pasang kabel grounding tambahan untuk menurunkan fault loop impedance.

Jika beban yang disupplay ternyata memiliki grounding loop yang berbeda, maka hal ini akan membuat unit proteksi tidak sensitive terhadap second fault. Untuk kondisi seperti itu, maka diwajibkan untuk memasang RCD high sensitivity, seperti ilustrasi dibawah ini.

Hal yang sama diaplikasikan untuk lokasi yang tidak mungkin menginstal electrode gronding (contoh : area yang sangat kering), RCD high sensitivity (\leq 30 mA) harus dipasang.

Sep 152011
 

Dalam proyek untuk melakukan starting analysis kita bisa memilih ETAP sebagai software pembantu. Setelah kita memasukkan data-2 motor dan inertia beban, juga kurve load torque sampailah kita pada pemilihan starting device. ETAP memberikan banyak pilihan. Saking banyaknya kita sampai lupa, apakah algoritma yang dipropose oleh ETAP tersebut ada dipasaran.

Contoh kasus adalah starting motor dengan mode current control. Algoritma current control tidak ada di softstarter biasa, umumnya ini ada di advanced VFD. Jelas ini bukan simple softstarter. Harganya tentu tidak simple lagi. Karena itu, pada waktu kita mereview motor starting kita harus jeli, apakah algoritma yang dipropose adalah feasible sesuai dengan kondisi market.

Contoh softstater buatan scheneder adalah ALTISTART 48. Device ini mampu untu melakukan sofstart dengan manipulasi torque dan membatasi arus start SEPANJANG proses starting. Jadi rasanya tidak pas kalau memilih mode current control; mungkin lebih baik kita memilih mode current limit.  Jika kita memilih ABB PSTB softstarter mode voltage control. Jika kita memilih SMC Flex dari Allen-Bradley maka kita bisa memilih  mode :

  • voltage control (with/without kickstart)
  • current limit start

Dari beberapa contoh softstarter, terlihat bahwa current control tidaklah umum dipakai dalam pengasutan motor induksi. jadi bijaksana dalam simulasi menolong kita memilih starting device yang benar.

%d bloggers like this: