Sep 152011
 

Dalam proyek untuk melakukan starting analysis kita bisa memilih ETAP sebagai software pembantu. Setelah kita memasukkan data-2 motor dan inertia beban, juga kurve load torque sampailah kita pada pemilihan starting device. ETAP memberikan banyak pilihan. Saking banyaknya kita sampai lupa, apakah algoritma yang dipropose oleh ETAP tersebut ada dipasaran.

Contoh kasus adalah starting motor dengan mode current control. Algoritma current control tidak ada di softstarter biasa, umumnya ini ada di advanced VFD. Jelas ini bukan simple softstarter. Harganya tentu tidak simple lagi. Karena itu, pada waktu kita mereview motor starting kita harus jeli, apakah algoritma yang dipropose adalah feasible sesuai dengan kondisi market.

Contoh softstater buatan scheneder adalah ALTISTART 48. Device ini mampu untu melakukan sofstart dengan manipulasi torque dan membatasi arus start SEPANJANG proses starting. Jadi rasanya tidak pas kalau memilih mode current control; mungkin lebih baik kita memilih mode current limit.  Jika kita memilih ABB PSTB softstarter mode voltage control. Jika kita memilih SMC Flex dari Allen-Bradley maka kita bisa memilih  mode :

  • voltage control (with/without kickstart)
  • current limit start

Dari beberapa contoh softstarter, terlihat bahwa current control tidaklah umum dipakai dalam pengasutan motor induksi. jadi bijaksana dalam simulasi menolong kita memilih starting device yang benar.

Aug 262011
 

Kembali ke basik adalah langkah bijaksana ketika kehilangan arah ke depan.  demikian juga waktu belajar motor induksi. Dibawah ini adalah model ideal (walaupun) tidak sepenuhnya “exact” dari motor induksi.

Gambar 1

hubungan frekuensi dan kecepatan dapat dijelaskan sebagai: \omega_{r}=\omega_{s}-\frac{p}{2}\omega_{m} rad/s. dimana : \omega_{r} =frequensi sudut rotor. \omega_{s}=frekuensi sudut stator. \omega_{m}=kecepatan sudut rotasi. p=pole. Sedangkan slip didefinisikan sebagai s=\frac{\omega_{r}}{\omega_{s}}=\frac{\omega_{s}-\frac{p}{2}\omega_{m}}{\omega_{s}} pu.

Dari persamaan dasar \frac{E_{mA}}{E_{ma}}=s\frac{N_{re}}{N_{se}} dan seterusnya, kita bisa dapatkan \frac{P_{mA}}{P_{ma}}=s. Dari situ, power 3 phase yang dikonversikan menjadi tenaga mekanis adalah : P_{mech}=3(P_{ma}-P_{mA})=3(1-s)P_{ma}=3\frac{p}{2}\frac{\omega_{m}}{\omega_{s}}P_{ma} W. Torsi yang dihasilkan pada rotor sebesar T=\frac{P_{mech}}{\omega_{m}}=3\frac{p}{2}\frac{P_{ma}}{\omega_{s}} N.m.

Pada motor induksi type wound rotor, model gambar 1 diperlukan, disebabkan adanya hubungan rotor dengan koneksi external. Untuk type motor induksi yang rotornya tidak berhubungan secara external kita bisa menggunakam model circuit seperti dibawah.

gambar 2 (klik untuk memperbesar)

pada gambar 2 tersebut :

P_{ma}=\frac{R'_{r}}{s}(I'_{r})^2=R'_{r}(I'_{r})^2+\frac{(1-s)}{s}R'r(I'_{r})^2 W.dan karena jelas bahwa R'_{r}(I'_{r})^2 merupakan rugi-rugi per-phase di rotor, maka P_{mech}=3\frac{(1-s)}{s}R'r(I'_{r})^2 W. next >> modeling parameter motor induksi dengan tegangan konstan frekuensi konstan.

%d bloggers like this: